0341-3021462 | 0856 3564 500
hajiumrohmalang@gmail.com


IBADAH YANG PALING UTAMA

17/09/2016 Info
Ketika Allah menegaskan dalam al Quran bahwa tujuan manusia diciptakan di muka bumi ini tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah (QS Aż Żāriyāt:56), maka hal ini menuntut adanya proses ibadah yang harus dilakukan oleh manusia secara terus-menerus, ibadah adalah kegiatan menyembah Allah dalam segala keadaan dengan menggunakan berbagai media dan sarana yang dimiliki oleh manusia dalam kehidupannya. Tidak boleh ada aktifitas kehidupan manusia yang tidak bernilai ibadah. Karena itu tepat sekali jika definisi ibadah secara mutlak adalah semua aktifitas yang dilakukan oleh manusia yang diridhai dan dicintai oleh Allah.
Apabila ada yang bertanya, kalau yang dimaksud dengan ibadah itu adalah mencakup seluruh aktifitas kehidupan manusia, maka apakah ibadah yang paling utama bagi manusia dalam kehidupan ini? Ibnul Qayyim dalam bukunya “Madarijussalikin” mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah mengerjakan pekerjaan yang diridhai oleh Allah pada waktu tertentu yang menuntut untuk dikerjakan pada waktu itu. Apabila seseorang mengerjakan ibadah pada waktu tertentu yang menuntu untuk dikerjakan pada saat itu, maka pekerjaan itu adalah merupakan ibadah yang paling utama.
Pada musim jihad, tidak ada ibadah yang lebih utama dibandingkan dengan memanggul senjata untuk berjihad. Ketika sedang kedatangan tamu di rumahnya, maka tidak ada aktifitas ibadah yang paling utama kecuali menghormati dan menyambut tamunya dengan baik. Pada saat musim menuntut ilmu, maka tidak ada kesibukan apapun yang lebih baik melainkan aktifitas menuntut ilmu. Pada saat berada di rumah bersama istri dan keluarga, maka tidak ada aktifitasa yang melebihi keutamaan berbuat baik dengan istri dan keluarga. Pada saat ażan berkumandang, maka aktifitas ibadah yang paling utama adalah menjawab ażan, demikian pula pada saat shalat lima waktu dan seterusnya.
Dengan demikian, apabila seseorang mau melakukan ibadah mutlak, maka yang menjadi acuan adalah ridha Allah, dia akan beredar kemana saja ridha Allah itu mengarah. Kapan saja dan kemana saja dia perpindah, maka yang dikejar adalah ridha Allah, dan pada semua tempat dan waktu tersubut dia sedang dalam beribadah kepada Allah. Ketika melihat ulama, dia ada diantara mereka. Ketika kita melihat ahli ibadah, dia ada di tempat itu. Ketika kita melihat para mujahid, dia juga salah satu dari mereka. Ketika kita melihat orang-orang yang lagi asyik berżikir kepada Allah, dia ada dalam posisi itu. Pada saat kita melihat orang-orang belomba-lomba berinfaq, dia ada dalam perlombaan itu. Dan begitu seterusnya, dalam setiap amal kebaikan yang diridhai oleh Allah, dia selalu ada di dalamnya.
Dalam makna lain, ketika hidup kita ini hanya untuk beribadah kepada Allah, maka berarti kita selalu bersama Allah swt., berusaha menapaki setiap jalan yang diridhai oleh-Nya, melakukan aktifitas yang dapat dirasakan manfaatnya oleh banyak orang, menundukkan seluruh kekuatan kita hanya untuk mengabdi dan mentaati Allah swt.
Lisan kita akan selalu beribadah, karena lisan ini selalu berżikir, melantunkan ayat-ayat Allah, terbiasa dengan kata-kata yang baik, mendoakan kebaikan, amar ma’ruf dan nahi mungkar. Telinga kita juga akan selalu beribadah, dengan hanya mendengarkan apa yang seharuskan didengarkan oleh setiap muslim, misalnya mendengarkan ayat-ayat al Quran (QS Al A’raf:204), atau mendengarkan kata-kata yang baik saja (QS Az Zumar:18). Penglihatan kita juga akan selalu beribadah, dengan hanya memandang segala sesuatu yang baik dan patut dipandang oleh setiap muslim, dan selalu ingat firman bahwa pendengaran, penglihatan dan hati nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah (QS Al Isra:36).
Ibadah ini adalah amanat dari Allah. Ketika sejumlah makhluq di muka bumi ini ditawari oleh Allah untuk memikulnya, dan tidak ada diantaranya yang mau menerimanya, kecuali manusia (QS AL Ahzab:72). Hal ini menunjukkan bahwa amanat ibadah ini adalah sangat berat. Menunaikan amanat dengan baik dan melakukannya dengan sempurna adalah merupakan sifat orang yang beriman. Lebih-lebih para dai yang pekerjaannya adalah menyeru orang lain untuk melakukan kebaikan, maka dia harus menjadi orang yang paling setia dalam menunaikan amanat ini.

Semoga Allah swt. memudahkan kita untuk dapat menunaikan amanat ibadah ini dengan sebaik-baiknya, mengarahkan seluruh potensi yang kita miliki dalam kehidupan kita di muka bumi ini hanya untuk mencari ridha dan cinta dari Allah swt. Wallahu a’lam.

Dr. Uril Bahrudin, LC, M.Ag



Tentang Penulis

-

Posting terkait dengan IBADAH YANG PALING UTAMA