Shalat jum’at merupakan momen penting bagi Muslim. Ketika berada di masjid orang-orang berkumpul sehingga terbentuk ikatan kecintaan, persaudaraan, dan persatuan. Tidak cuma membawa persatuan, shalat jum’at juga tempat memperkuat aqidah.

Shalat Jum’at selalu diawali dengan khotbah jum’at, dari sini kita diajarkan berbagai contoh ahlaq mulia dan ilmu-ilmu Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan pentingnya mendengarkan khotbah jum’at. Bahkan beliau sampai melarang umatnya untuk berbicara ketika khotib sedang berkhotbah.

Dalil Larangan Berbicara Saat Khotbah Jumat

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jum’at, ‘Diamlah, khotib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.”(HR. Bukhari no. 934 dan Muslim no. 851)

Dan dari Salman Al Farisi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seseorang mandi pada hari Jum’at, dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak dan harum-haruman dari rumahnya kemudian ia keluar rumah, lantas ia tidak memisahkan di antara dua orang, kemudian ia mengerjakan shalat yang diwajibkan, dan ketika imam berkhutbah, ia pun diam, maka ia akan mendapatkan ampunan antara Jum’at yang satu dan Jum’at lainnya.” (HR. Bukhari no. 883)

Hadits di atas menunjukkan larangan berbicara ketika khatib khotbah dan perkataan untuk menyuruh orang diam. Sebesar itu pentingnya mendengarkan khotib berkhutbah, bahkan memberikan nasihat baik pun dianggap sia-sia oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Memang kenapa kita tidak boleh berbicara ketika khotbah jum’at? Para ulama berpendapat bahwa orang yang berbicara ketika khotbah jum’at kehilangan pahala shalat jum’at dan jum’atnya hanya bernilai shalat dzuhur.

Maksud dari jum’atnya menjadi dzuhur adalah, shalat jum’atnya sah, namun tidak mendapatkan keutamaannya.

Ada pengecualian dimana kita boleh berbicara saat khotbah jumat yaitu,

  1. Menjawab salam khatib
  2. Menjawab kumandang adzan
  3. Menjawab shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  4. Berbicara kepada khatib jika ada hajat

Bermain Handphone ketika Khotbah Jum’at

Jika kita perhatikan, banyak juga muslim yang diam ketika khotbah jum’at. Akan tetapi diamnya bukan sedang memperhatikan ceramah khatib, melainkan karena asyik bermain handphone. Dalam hadits disebutkan,

“Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (shalat) Jum’at, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jum’at saat ini dan Jum’at sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela)” (HR. Muslim no. 857)

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa orang yang mendapat keutamaan shalat jum’at adalah orang yang betul-betul mendengarkan dan diam. Sedangkan orang yang sibuk bermain handphone sudah jelas tidak mendengarkan ceramah dengan seksama.

Dijelaskan lagi bahwa barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat maka ia sedang melakukan hal yang batil. Bermain tongkat dapat disamakan dengan bermain handphone karena keduanya sama-sama memecah konsentrasi yang menyebabkan kita tidak mendengarkan ceramah khatib.

Jadi bisa dikatakan bahwa orang yang bermain handphone ketika khotbah jum’at tidak mendapatkan kesempurnaan pahala shalat jumat.