Menu Close

Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang I’tikaf

Sahabat umroh, seringkali menjelang berakhirnya Ramadhan kita disibukkan dengan urusan duniawi dalam rangka menyambut Idul Fitri. Mulai dari mudik pulang ke kampung halaman, mempersiapkan jamuan makan lebaran hingga sibuk berbelanja baju baru yang didiskon habis-habisan. Padahal, justru Ramadhan memasuki masa-masa krusial di 10 hari terakhir Ramadhan dimana sebaiknya dimanfaatkan dengan melaksanakan i’tikaf di masjid.

Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ibnul Mundzir berkaya, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”

Adapun Abu Hurairah meriwayatkan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari” (HR Bukhari).

Keutamaan I’tikaf

Salah satu keutamaan i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan adalah dalam rangka mencari malam lailatul qadar. Abu Said al-Khudri meriwayatkan “Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR Bukhari).

Adapun malam lailatul qadar sebagaimana kita ketahui merupakan malam yang sangat mulia yang hendaknya senantiasa ditunggu oleh setiap muslim. Salah satu keutamaannya adalah memperoleh ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala  “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari).

Kapan waktu yang tepat untuk i’tikaf?

Waktu yang utama untuk melaksanakan i’tikaf adalah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana dikabarkan ibunda Aisyah ra. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.” (HR Bukhari dan Muslim)

I’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh dilakukan di masjid mana saja

Dalilnya adalah firman dari Allah Ta’ala “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187).

Mayoritas ulama berpendapat, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman dalil di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. Ibnu Hajar menyatakan, “Ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 187) menyebutkan disyaratkannya masjid, tanpa dikhususkan masjid tertentu”. Lalu masjid mana saja yang dimaksud? Apakah masjid tempat ditegakkannya shalat lima waktu atau masjid khusus diadakannya shalat Jum’at?

Imam Malik berpendapat bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan shalat lima waktu di sana) karena keumuman firman Allah Ta’ala tersebut. Ini juga menjadi pendapat Imam Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i rahimahullah memberikan syarat, yaitu masjid tersebut haruslah diadakan shalat Jum’at di dalamnya. Tujuannya agar saat melaksanakan shalat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.

Wanita boleh i’tikaf di masjid

Wanita diperbolehkan i’tikaf di masjid berdasarkan hadits berikut “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.” (HR Bukhari)

Tentu saja dengan catatan mendapatkan izin dari suami/mahramnya, tempat i’tikaf laki-laki dan wanita dipisah dan hanya boleh i’tikaf ketika dalam kondisi suci dari haid dan nifas.

Apa saja yang dilakukan saat i’tikaf?

Tidak ada ketentuan khusus mengenai hal ini. Sehingga semua aktifitas yang bernilai ibadah pada dasarnya boleh dilakukan seperti memperbanyak shalat sunnah, tilawatil qur’an, mengkaji ilmu-ilmu syariat dll. Adapun menyibukkan diri dalam perkara yang tidak bernilai ibadah sebaiknya dihindari seperti bermedia sosial, berdiskusi hal-hal yang tidak bermanfaat dll. (ya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.